Master Cheng Yen Bercerita – Nilai Sebuah Batu (015)

Sharing is caring!

Master Cheng Yen Bercerita ” Nilai Sebuah Batu ” (015)

 

Dalam mempelajari ajaran Buddha kita harus berhati lapang dan berpikiran murni. Sesederhana itu. Kita harus berhati lapang dan berpikiran sederhana. Janganlah kita berpikiran terlalu rumit. Kita harus berfokus pada tanggung jawab kita pada hari ini, pelatihan diri kita, bagaimana kita bertanggung jawab pada diri sendiri dan bagaimana kita melenyapkan noda batin. Inilah pola pikir yang sehat. Dalam melatih diri, jika kita masih melekat pada masa lalu, maka noda batin akan kembali menutupi hati kita. Karena itu kita harus sangat berhati-hati. Kita jangan terus melekat pada masa lalu. Pikiran kita jangan terpengaruh oleh kondisi pada masa lalu, masa kini dan masa depan, karena jika kita demikian kita akan terus terjerat dan membangkitkan noda batin. Kita harus merenung baik-baik bagaimana cara mengikis noda batin kita. Dimanakah letak nilai kehidupan kita ? saya akan ceritakan sebuah kisah.

 

NILAI SEBUAH BATU

Ada seorang sramanera, mengikuti gurunya meninggalkan keduniawian. Sramanera it uterus berpikir apa sesungguhnya nilai dari kehidupan manusia. Dia sering bertanya kepada gurunya tentang masalah di dunia, kehidupan, nilai kehidupan dan lain lain sehingga gurunya merasa sangat pusing.

 

Suatu hari gurunya  berkata padanya, “ Kamu bawalah batu ini untuk dijual dipasar”. Biarlah orang yang menawar, kamu jangan sunguh-sungguh menjualnya.” Jadi, dia membawanya ke pasar. Saat di pasar, seorang pria yang melihat batu itu berkata, batu ini sangat besar dan sangat cantik,” lalu dia menawar 2 dolar, Namun ada seseorang yang lain berkata  “ Batu ini punya kegunaan yang lain, yaitu bisa dijadikan timbangan.” Karena itu dia menawarkan 10 dolar.  Sramanera itu sangat gembira karena sebuah batu saja bisa naik dari 2 dolar menjadi 10 dolar. Dia lalu bertanya, “ Guru, boleh dijual?” Gurunya menjawab “ Belum” “ Sekarang kamu bisa kembali lagi ke pasar” “ tetap biarkan orang menawar, tetapi kamu jangan menjualnya”.

 

Sramanera itu kembali  ke pasar dan mulai memasarkan batunya. Seorang wanita melihat batu itu sangat cantik, laluia menawarnya seharga 1.000 dolar. Seseorang lain berkata “ Oh, dia menawar 1.000 dolar “ Jika begitu saya tawar 10.000 dolar “ Bahkan ada orang yang menawar seharga 100.000 dolar. Sramanera itu sangat gembira. Karena harga sbuah batu bisa naik dari 2 dolar, 10 dolar, 1.000 dolar, 10.000 dolar hingga akhirnya menjadi 100.000 dolar. Dia segera kembali untuk bertanya kepada gurunya apakah batunya sudah boleh dijual. Sang guru berkata padanya “ Apakah standar untuk menilai kehidupan kita ?” “ Kita harus menilai diri sendiri bagai menilai perhiasan yang berharga “ “ Jangan kita meminta orang lain untuk menilai kehidupan kita “ “ Tiada satu orangpun yang bisa menetapkan kehidupan kita “ Contohnya batu itu “ Harga terendah yang ditawar orang adalah 2 dolar” “ Sementara itu, harga tertinggi adalah 100.000 dolar.”  “ Sesungguhnya, nilai kehidupan bergantung pada diri kita sendiri.” “ kita seharusnya  menciptakan nilai kehidupan bagi diri sendiri” “ Sama seperti batu itu juga bisa kita buat menjadi tak berharga.”

 

Hal ini membuat saya teringat pada saat tidak lama setelah Tzu Chi berdiri. Phochaeng Mahathera dari Thailand berkunjung ke Taiwan dan tinggal di Vihara Dong Jing. Berhubung beliau adalah Mahathera dari Thailand, banyak bhiksu dan bhiksuni pergi menyambut kedatangannya. Karena saya juga diundang maka saya pun ikut menyambutnya. Setelah mengantar beliau ke Vihara Dong Jing dan bertemu dengannya sebentar, saya lalu bersiap-siap untuk pulang. Saat melihat saya  dia melambaikan tangan lalu berkata. “Tunggu sebentar”. “Kalian mau kemana ?” Saya berkata, “Saya mau pulang”. “Dimana rumah Anda?’ Saya menjawab, “Rumah saya berada di daerah perkebunan”. “Ia agak jauh dari sini”. “Saya ingin pergi dengan Anda”. “Cepat buka pintu mobilnya”. Beliau berkata, “Jika Anda tidak segera membuka pintunya, nanti akan ada banyak orang yang mengikuti”. Lalu, beliau membuka pintu mobil dan pergi bersama dengan kami.

 

Pada saat itu bangunan Griya Jing Si sangat sederhana. Dibagian depan aula utama Griya Jing Si terdapat empat pilar dan di sebelah kananya ada sebuah batu. Batu itu adalah pemberian seorang umat. Dia memotong batu itu hingga berbentuk segi empat. Batu itu sangat cantik. Saya memberitahunya bahwa itu adalah batu serpentine. Beliau berkata, “Bukan” “Ini adalah batu giok”. Batu itu sangat besar. Berhubung tempat kita sangat seherhana dan kita tak memiliki tempat untuk menyimpannya, maka sayapun meletakkannya di depan pintu. Saat dalam perjalanan ke Griya Jing Si dia berkata, “Ke manapun saya pergi   selalu disambut oleh rombongan drum dan gong”. “Saya juga memiliki delapan pelayan”. “Jika tidak keluar dengan kalian, saya sama sekali tak punya kebebasan”.

 

Setelah berkata demikian, dia memberi saya sebuah cendera mata yang sangat cantik. Barang itu masih saya simpan hingga kini. Namun apa yang bisa saya berikan untuknya ? Saya tidak memiliki apa-apa. “Boleh saya memberikan batu ini untuk Anda?”. Beliau berkata, “Batu ini sangat cantik”. Beliau sangat menyukainya. Batu itu juga sangat berat. Beliau berkata, “Setelah pulang nanti saya akan mengukirnya menjadi sebuah rupang Buddha berwarna hijau yang sangat cantik”. Disini, kita tidak tahu bahwa batu itu begitu berharga. Kita bahkan meletakkannya di luar dan tidak ada orang yang mengambilnya.

 

Saat Mahathera itu datang dan menerima pemberian batu itu dari saya beliau berkata bahwa beliau akan membawa nya pulang dan mengukirnya menjadi rupang Buddha. Lihatlah, inilah nilai suatu barang. Sejak saat itu saya belajar bahwa segala sesuatu adalah berharga, bahkan batu juga barang yang berharga. Intinya, itu semua bergantung pada   bagaimana kita menggunakannya. Dengan mengukirnya menjadi rupang Buddha orang-orang bisa menggunakannya untuk kegiatan puja. Bagi saya yang tidak paham mungkin saya akan menjadikannya sebagai sandaran kaki meja atau sandaran kursi. Mungkin saja begitu.

 

Singkat kata apa sesungguhnya standar nilai di dunia ini ? itu semua bergantung pada pikiran kita. Saat melihat sesuatu yang disukai sering kali timbul kemelekatan di dalam batin kita. Mungkin saja kita melekat pada sesuatu yang sesungguhnya tidaklah berharga. Kita mungkin mengabaikan sesuatu yang sangat berharga yaitu hakikat kebuddhaan di dalam hati. Mungkin kita sama sekali tidak menyadarinya. Karena itu standar nilai segala sesuatu bergantung pada diri kita sendiri. Saya harap setiap orang bisa memperluas dan memperdalam nilai kehidupan masing-masing.

 

Demikianlah diintisarikan dari Master Cheng Yen Bercerita ” Nilai Sebuah Batu ” (015)  https://youtu.be/gZt0ZXcQ4S8

 

Master Cheng Yen Bercerita : Disiarkan di Stasiun Televisi Cinta Kasih DAAITV INDONESIA :

Channel  Jakarta 59 UHF, Medan 49 UHF
Setiap Sabtu  18.30 WIB; Tayang ulang: Sabtu 22.00 WIB, Sabtu (Minggu berikutnya)  06.00 WIB

TV Online : https://www.mivo.com/#/live/daaitv

 

GATHA PELIMPAHAN JASA
Semoga mengikis habis Tiga Rintangan
Semoga memperoleh kebijaksanaan dan memahami kebenaran
Semoga seluruh rintangan lenyap adanya
Dari kehidupan ke kehidupan senantiasa berjalan di Jalan Bodhisattva

 

 

 

 

 

Sharing is caring!