Master Cheng Yen Bercerita – Karma Buruk Akibat mengambil Gading (026)

Sharing is caring!

Master Cheng Yen Bercerita – Karma Buruk Akibat mengambil Gading (026)

 

Video Youtube : https://youtu.be/3esv-HRzZzc

 

Kita harus memercayai hukum sebab akibat. Kita hendaknya selalu menggunakan hati yang tulus untuk percaya pada hukum sebab akibat. Sebab bagaikan sebutir benih. Benih apa yang kita tanam pada masa lampau, demikianlah buah yang kita tuai pada masa kini. Segala yang kita perbuat, akan kita rasakan sendiri. Jadi, kita harus menjaga pikiran kita agar selalu lurus dan tidak menyimpang. Kita harus selalu menjalin jodoh baik dengan orang. Bagaimana pun sikap orang terhadap kita, kita hendaknya menerimanya dengan sukacita.

 

Kita perlu tahu bahwa orang yang berbuat baik akan memperoleh kebahagiaan, orang yang berbuat jahat akan menuai penderitaan. Kebahagiaan dan penderitaan bersumber dari perbuatan kita. Saat bertemu situasi yang tidak menyenangkan atau terjerat jalinan jodoh buruk, sering kali timbul rasa benci di dalam hati kita. Setelah suatu hal berlalu, kita hendaknya jangan terus menyimpan rasa benci di dalam hati.

 

Kita hendaknya jangan terus menyimpan rasa benci di dalam hati. Kita harus berlapang dada dan berpikiran sederhana. Janganlah selalu menyimpan rasa marah karena lama kelamaan, ia akan berubah menjadi keluh kesah. Keluh kesah akan berubah menjadi rasa benci.

 

Rasa benci akan membuat kita menciptakan karma buruk dan menjalin jodoh buruk dengan orang lain. Jika kita terus menjalin hubungan penuh benci dan dendam dengan orang, ini akan menyebabkan hubungan penuh benci dan dendam dengan orang, maka konsekuensinya sungguh mengerikan.

 

Di dalam pegunungan, terdapat seekor raja gajah yang mempunyai dua istri. Suatu ketika, dia melihat bunga teratai yang sangat indah dan wangi di dalam kolam. Dia lalu mengambil bunga teratai tersebut dan memberikannya kepada istri pertama. Istri pertama sangat gembira menerimanya.

 

Saat turun salju seperti itu, bunga teratai masih mekar di kolam. Bunga teratai yang begitu indah sangat disukai istri pertama. Namun, ketika istri kedua melihat bunga yang begitu indah diberikan kepada istri pertama, ia sangat marah dan timbul kebencian di dalam hatinya. Dia bersumpah di dalam hatinya, “Pada kehidupan mendatang, saya akan membalas dendam dengan cara sekejam mungkin. Saya pasti membalas dendam.”

Rasa benci dan niat buruk telah membelenggu hatinya. Tidak lama kemudian, istri kedua meninggal dunia. Dia terlahir kembali di keluarga yang bermartabat tinggi dan berparas sangat cantik. Selain cantik, dia juga sangat pintar. Mendengar banyak orang berkata bahwa gadis itu sangat bijaksana, berparas cantik, berpengetahuan luas, kaisar pun menjadikannya sebagai selir.

 

Sang kaisar suka berdiskusi masalah politik dengan selir ini dan sang selir banyak memberinya saran. Apa pun yang dikatakan selir itu, sang kaisar selalu mendengarnya. Suatu ketika, selir berkata kepada sang kaisar, “Paduka, saya bermimpi tentang seekor gajah di pegunungan terpencil. Gajah itu mempunyai enam gading. Saya sangat menyukai gading tersebut. Saya ingin memilikinya sebagai perhiasan.”

 

Kaisar berkata, “Bagaimana mungkin gajah memiliki enam gading? Mustahil.” Selir berkata, “Jika paduka tidak mendapatkannya untuk saya, lebih baik saya mati.” Sang kaisar terkejut mendengarnya. Karena itu, beliau segera memanggil para menterinya. Ketika empat menterinya datang, sang kaisar berkata, “Saya bermimpi tentang seekor gajah yang memiliki enam buah gading. Gading gajah itu sangat cantik. Saya ingin memilikinya. Bisakah kalian mendapatkannya untuk saya?”

Menteri pertama berkata, “Ini sangatlah mustahil.” Menteri kedua berkata, “Paduka, itu pasti bukan mimpi Anda.” Menteri ketiga berkata, “Gajah ini sepertinya ada di pegunungan terpencil.” Menteri keempat berkata, “Saya pernah mendengar di suatu tempat yang jauh ada gajah seperti itu.”

 

Jadi, sang kaisar segera mengumpulkan semua pemburu di seluruh negeri dan bertanya, “Apakah kalian tahu hal seperti ini?” Salah seorang pemburu berkata, “Kakek saya mengatakan kepada ayah saya tentang ini. “Saya pernah mendengarnya, tetapi tempat itu sangat jauh. Saya tidak tahu di mana persisnya.”

 

Sang selir berkata, “Saya tahu tempatnya. Jika kalian punya niat, jalanlah ke arah selatan sejauh 1.500 km. Di sana ada sebuah gunung. Anda dakilah gunung itu dan terus berjalan ke arah selatan. Jika ingin mengambil gading gajah itu, di tengah perjalanan, Anda galilah sebuah lubang di pinggir jalan. Lalu, Anda harus menyamar sebagai bhiksu karena gajah ini sangat menghormati Tiga Permata. Jadi, Anda harus menyamar sebagai seorang bhiksu, mencukur rambut dan jenggot Anda, mencukur rambut dan jenggot Anda, dan mengenakan jubah bhiksu, lalu bersembunyi di dalam lubang itu. Ketika raja gajah datang, Anda mempunyai kesempatan untuk membunuhnya dan mengambil gadingnya.”

Pemburu itu sungguh melakukannya sesuai dengan petunjuk sang selir. Tidak lama setelah bersembunyi di dalam lubang itu, gajah itu datang. Pemburu itu segera menikam gajah tersebut. Ketika melihat orang yang melukainya adalah seorang bhiksu, meski sangat kesakitan, raja gajah itu tetap bersujud, lalu bertanya kepada bhiksu itu, “Anda adalah seorang praktisi, mengapa Anda melukai saya?”

 

Pemburu berkata, “Saya ingin mengambil gadingmu.” Gajah menjawab, “Baiklah. Anda lekaslah ambil. Sekarang saya sangat kesakitan. Jika ingin mengambil gading saya, Anda ambillah sekarang sebelum timbul rasa benci di dalam hati saya karena kesakitan.”

 

Pemburu itu segera mengambil gading gajah tersebut. Raja gajah kembali berkata, “Setelah mengambil gading saya, lekas tinggalkan tempat ini sebelum kawanan gajah datang. Jangan sampai mereka menemukan jejak kaki Anda. Anda harus segera pergi.”

 

Setelah si pemburu pergi,  Raja gajah itu merintih kesakitan hingga akhirnya meninggal dunia. Kemudian, kawanan gajah berdatangan. Mereka melihat sang raja telah meninggal dan menemukan gadingnya telah hilang, tetapi mereka tidak dapat menemukan jejak si pemburu. Si Pemburu membawa gading itu kembali ke istana.

 

Ketika melihatnya, kaisar merasa gelisah dan ketakutan. Sang selir mengambil gading tersebut dan ketika sedang melihatnya, petir menggelegar di langit dan menyambarnya hingga tewas dan muntah darah. Coba bayangkan betapa menakutkannya rasa dendam dan benci. Susah payah dia bisa terlahir di alam manusia setelah menjadi binatang. Namun, setelah menjadi manusia, rasa bencinya masih tidak hilang.

 

Jadi, kita harus memercayai hukum sebab akibat. Kita harus membina hati yang tulus dan menjalin jodoh baik dengan banyak orang. Kita harus memahami bahwa kita menuai apa yang kita tabur. Kita hendaknya menerima buah karma dengan sukarela. Baik sukacita maupun penderitaan, semuanya adalah buah karma kita sendiri. Oleh karena itu, kita harus selalu bersungguh hati.

 

 

 

Demikianlah dituliskan kisahnya dari video Master Cheng Yen Bercerita – Karma Buruk Akibat mengambil Gading (026) https://youtu.be/3esv-HRzZzc

 

Master Cheng Yen Bercerita : Disiarkan di Stasiun Televisi Cinta Kasih DAAITV INDONESIA :

Channel  Jakarta 59 UHF, Medan 49 UHF
Setiap Sabtu  18.30 WIB; Tayang ulang: Sabtu 22.00 WIB, Sabtu (Minggu berikutnya)  06.00 WIB

TV Online : https://www.mivo.com/#/live/daaitv

 

 

GATHA PELIMPAHAN JASA
Semoga mengikis habis Tiga Rintangan
Semoga memperoleh kebijaksanaan dan memahami kebenaran
Semoga seluruh rintangan lenyap adanya
Dari kehidupan ke kehidupan senantiasa berjalan di Jalan Bodhisattva

 

Sharing is caring!