Master Cheng Yen Bercerita ” Empat Kali Mengambil Permata ” (034)

Sharing is caring!

Master Cheng Yen Bercerita ” Empat Kali Mengambil Permata ” (034)

Saat enam indra kita bersentuhan dengan kondisi luar sering timbul pikiran yang membeda-bedakan. Enam indra meliputi mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan pikiran. Telinga dapat mendengar suara, mata dapat melihat, hidung dapat membedakan aroma harum atau bau, lidah dapat merasakan makanan keras atau lunak, tubuh dapat merasakan dingin atau panas. Itu semua karena indra kita bersentuhan dengan kondisi luar. Karena sentuhan itu, timbullah pikiran yang membeda-bedakan. Lalu, kita akan mulai berpikir untuk melakukan perbuatan.

Saat pikiran tidak lurus, kita akan mudah menciptakan karma buruk. Jadi, saat pikiran bersentuhan dengan objek luar, kita akan mulai berpikir untuk melakukan perbuatan. Jadi, kita hendaknya selalu memperhatikan pikiran kita. Karena itu, saya sering berkata bahwa kita harus bersungguh hati dan berhati-hati. Jika tidak bersungguh hati dan tidak menjaga pikiran dengan baik, pikiran kita akan menyimpang. Jika pikiran menyimpang, kita akan menciptakan karma buruk. Karena itu, kita harus sangat berhati-hati.

Yang dimaksud dengan berhati-hati adalah berkonsentrasi. Artinya, kita harus sangat berfokus dan berhati-hati. Hati kita harus selalu berfokus. Jadi, kita hendaknya selalu bersungguh hati.

Demikianlah kisahnya :  https://youtu.be/Ke_hJfl8uS4?t=2m36s

Dalam keseharian kita harus sangat bersungguh hati. Jika tidak bersungguh hati terkadang pikiran kita akan bergejolak. Contohnya Buddha yang bermanifestasi sebagai brahmana untuk membabarkan Dharma. Awalnya, Brahmana itu menginginkan sebuah rumah dan ingin berkeluarga. Setelah berkeluarga dia ingin memiliki ladang dan pelayan. Setelah memiliki ladang, pelayan dan setelah berkeluarga dia akan memiliki anak. Dia tidak tahu berapa anak yang akan dimiliki kelak. Jika kondisi hidup anak-anak kurang baik, dia masih harus membantu mereka.

Demikianlah manusia masih terus mengejar nafsu keinginan tanpa henti. Pikiran yang bergejolak mendorong kita menciptakan karma buruk dan mengejar segala yang kita inginkan, karena itu ada ungkapan berbunyi, “Pikiran manusia bagaikan pelukis yang dapat melukis segala yang diinginkan”. Semua itu bersumber dari pikiran.

Contohnya sebutir padi. Benih padi harus disemai hingga bertunas. Barulah bisa ditanam. Tunas harus ditanam di tanah baru ia bisa bertumbuh menjadi padi dan kembali menghasilkan bibit. Ini adalah prinsip yang sama. Pikiran kita juga terus berkembang seperti itu.

Saat bertemu dengan kondisi luar, pikiran kita akan bergejolak dan akan terus terjerumus hingga menciptakan banyak karma buruk. Saudara sekalian kita sungguh harus memperhatikan hal ini. Saat bertemu dengan kondisi luar, kita harus merenung secara mendalam. Pikiran kita bagaikan sebuah cermin besar yang dapat memantulkan segala sesuatu dengan sangat jelas. Apabila cermin itu kotor, maka kondisi yang terpantul akan tidak jelas.

Saudara sekalian pada saat enam indra kita   bersentuhan dengan kondisi luar, kita harus bisa memilahnya. Indra pikiran harus dengan baik agar kita tidak berjalan menyimpang. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati dan memperhatikan kondisi pikiran kita.

Demikianlah dituliskan kisahnya dari video Master Cheng Yen Bercerita ” Empat Kali Mengambil Permata ” (034) https://youtu.be/Ke_hJfl8uS4

GATHA PELIMPAHAN JASA
Semoga mengikis habis Tiga Rintangan
Semoga memperoleh kebijaksanaan dan memahami kebenaran
Semoga seluruh rintangan lenyap adanya
Dari kehidupan ke kehidupan senantiasa berjalan di Jalan Bodhisattva

 

Sharing is caring!