Master Cheng Yen Bercerita – Kota Pasir Anak-anak (078)

Sharing is caring!

 

Master Cheng Yen Bercerita – Kota Pasir Anak-anak (078)

 

Kita bekerja keras seumur hidup. Mengapa kita terlahir ke dunia ? Sesungguhnya kita tidak tahu. Kita terlahir dan besar di keluarga kita. Kondisi di dalam keluarga, kondisi masyarakat, kondisi lingkungan tempat kita tinggal, kondisi lingkungan tempat kita bertumbuh besar, dan orang-orang di sekitar dapat mempengaruhi kita. Pengaruh lingkungan sekitar mendorong kita memilih suatu profesi. Ada orang yang memiliki pekerjaan yang baik dan sangat sukses.  Ada orang yang sangat bekerja keras, tetapi tak kunjung sukses. Orang seperti ini bekerja keras seumur hidup hanya demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Demi bertahan hidup, mereka melakukan pekerjaan baik dan buruk. Mereka bekerja untuk mencari nafkah dan bertahan hidup. Di dunia ini banyak orang seperti  ini.

 

Buddha berkata bahwa  nafsu keinginan manusia dapat terbangkitkan saat bersentuhan dengan kondisi luar. Nafsu keinginan mendorong manusia mengejar banyak hal. Karena itu timbullah perasaan memperoleh dan kehilangan. Perasaan memperoleh dan kehilangan ini memicu timbulnya rasa dendam dan benci. Berbagai masalah yang timbul akibat rasa cinta, benci dan dendam terus membelenggu. Setelah memahami prinsip kebenaran, maka kita dapat mencegah diri dari perbuatan buruk. Kita hendaknya menggunakan prinsip kebenaran untuk mengendalikan sikap kita.

 

KOTA PASIR ANAK-ANAK

Ada sekelompok anak tengah bermain di sebuah lapangan. Mereka menarik garis untuk memisahkan  lahan menjadi dua bagian. Masing-masing dari mereka mengambil satu lahan. Mereka lalu mulai  membangun rumah dengan tanah dan pasir. Ini adalah rumah saya, dan itu adalah rumahmu. “ Di rumah saya ada gudang dan lain-lain.” Mereka membangun apapun yang diinginkan.

 

Pada saa itu,  datanglah seorang bapak tua. Dia melihat anak-anak tengah bermain. Anak-anak banyak membangun rumah pasir hingga membentuk sebuah kota. Kemudian salah seorang anak berkata, “Lahan saya tidak cukup.” “ Saya membutuhkan lahan yang lebih luas .” “ Kamu geser dikit.” “ Kamu geser dikit lagi” “ Rumah kami sudah selesai dibangun.” “ Mengapa kami harus mengalah padamu?.” “Mereka pun bertengkar” dan saling mendorong.” Disana mereka mulai berkelahi dan saling mendorong. Akibatnya, ada anak yang terjatuh. Bapak tua itu melihat anak-anak berkelahi dan rumah-rumah pasir yang hancur. Bapak tua itu mengeleng kepala sambil berpikir, “ Anak sekecil itu sudah punya nafsu keinginan sebesar ini.” “ Anak-anak, mari dengarkan saya.” “ Anak-anak, mari dengarkan saya.” “Siapa pemilik lahan ini ?” “ Kami tidak tahu milik siapa .” “ Dengan apa kalian membangun rumah?” “ Dengan tanah” “ Dimana rumah kalian sekarang?” “Ada disini, tapi sudah hancur semuanya.” “Ya” “ Apakah kalian semua berteman baik ?” Merekapun menganggukkan kepala. “ Mengapa kalian bertengkar? “ anak-anak itu menggelengkan kepala. “ Demi lahan yang bukan milik kalian dan rumah-rumah yang kalian bangun dengan susah payah.” “Akibat sedikit pertikaian, kalian menghancurkan rumah-rumah itu “ Bukankah kalian berteman baik?” “ Ya, benar” Mereka segera bergandengan tangan. “ Kelak kita jangan bersikap penuh perhitungan untuk hal yang tidak pantas seperti ini.” Mereka berterima kasih atas bimbingan bapak itu.

 

Bukankah ini terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita ? Dalam keseharian, apakah kita sudah melihat kondisi luar dengan jelas ? Sesungguhnya segala sesuatu terjadi hanya karena perpaduan sebab dan kondisi. Banyak orang saling bertikai demi hal-hal semu. Akibat sebersit niat yang menyimpang, Manusia menciptakan banyak karma buruk. Semua ini terjadi akibat ketidaktahuan. Contohnya anak-anak tadi. Permainan anak-anak itu bagaikan kehidupan kita. Kita menggangap sesuatu yang tidak nyata sebagai nyata sehingga saling bertikai dan menciptakan karma buruk akibat kemelekatan, rasa benci dan dendam. Nafsu terhadap kuasa dan pertikaian menyebabkan kondisi di dunia menjadi kacau. Meski hidup dalam ketidaktahuan, terkadang kita dapat bertemu dengan mitra baik yang akan membimbing kita memahami prinsip kebenaran. Mitra baik membimbing kita untuk menjauhkan diri dari perbuatan buruk. Saat segala perbuatan kita kembali ke jalan yang benar, maka perlahan-lahan kita akan semakin dekat dengan kebuddhaan.

 

Demikianlah dituliskan kisahnya dari video Master Cheng Yen Bercerita – Kota Pasir Anak-anak (078) https://youtu.be/h6wF2A6Br3w

 

Master Cheng Yen Bercerita : Disiarkan di Stasiun Televisi Cinta Kasih DAAITV INDONESIA :

Channel  Jakarta 59 UHF, Medan 49 UHF
Setiap Sabtu  18.30 WIB; Tayang ulang: Sabtu 22.00 WIB, Sabtu (Minggu berikutnya)  06.00 WIB
TV Online : https://www.mivo.com/#/live/daaitv

GATHA PELIMPAHAN JASA
Semoga mengikis habis Tiga Rintangan
Semoga memperoleh kebijaksanaan dan memahami kebenaran
Semoga seluruh rintangan lenyap adanya
Dari kehidupan ke kehidupan senantiasa berjalan di Jalan Bodhisattva

 

 

Sharing is caring!