Master Cheng Yen Bercerita – Memohon Panjang Umur (077)

Sharing is caring!

Master Cheng Yen Bercerita – Memohon Panjang Umur (077)

Dalam keseharian, kita berhadapan dengan banyak hal. Dalam menghadapi segala  sesuatu, kita harus mengamati jalinan jodoh. Saat bersikap baik terhadap orang,  berarti kita tengah menjalin jodoh baik. Dengan demikian, secara alami, orang juga akan bersikap baik pada kita dan merasa gembira saat berinteraksi dengan kita.    Ini dapat membangun citra seseorang.

Dalam menghadapi segala sesuatu,  kita harus mengamati jalinan jodoh. Benih karma  dan jalinan jodoh bergantung pada perbuatan kita dalam kehidupan sehari-hari.

MEMOHON PANJANG UMUR

Pada Zaman Buddha hidup, di Rajagrha ada seorang tetua yang memiliki seorang anak laki-laki berusia 6 tahun. Tetua ini sangat menyayangi anaknya. Dia berharap anaknya dapat bertumbuh besar dengan aman dan sehat. Suatu hari, seorang peramal melihat anak ini. Peramal itu berkata, “ Anak anda ini sangat penuh berkah, tapi sayangnya pendek umur.” Sejak saat itu, tetua sangat khawatir setiap hari. Dia membawa anaknya ke berbagai tempat untuk meminta pertolongan. “ Siapa yang dapat memperpanjang usia anak saya ? Mendengar permohonannya, para praktisi Brahmana menggelengkan kepala dan berkata, “Tidak ada cara”. Tidak ada orang yang dapat memperpanjang usia seseorang.” “ Ini hal yang tidak mungkin,” Tetua ini pun segera pergi ke vihara untuk memohon kepada Buddha. Buddha berkata, “Tidak ada seorang pun yang dapat menentukan panjang dan pendeknya  usia sesorang,” “ Panjang atau pendeknya usia bergantung pada diri sendiri,”  Tetua itu berkata, “Saya adalah ayahnya.” “Apa yang dapat saya lakukan untuk anak saya ?” Buddha berkata, “ di luar kota, ada banyak orang yang hidup kekurangan,” “Engkau dan anakmu dapat membantu mereka dengan hati penuh sukacita.” “  Saat bertemu dengan orang disana, engkau harus membungkukkan badan dengan penuh rasa hormat sehingga saat melihatmu, orang-orang itu juga menaruh rasa hormat.” Disana sungguh ada banyak orang yang hidup kekurangan. Dia tidak mengingat-ingat tujuannya untuk memohon berkah dan usia bagi anaknya. Dengan sepenuh hati, dia mengajarkan anaknya untuk bersumbangsih dan memberikan hormat kepada orang yang hidup kekurangan. Terhadap semua orang yang lewat, mereka membungkukkan badan dengan penuh rasa hormat. Orang-orang membalas budi mereka dengan cara mendoakan mereka. Para penerima bantuan mendoakan mereka semoga panjang umur dan penuh berkah. Demikianlah kegiatan memberi bantuan ini menjadi kegiatan yang paling mengembirakan bagi sepasang ayah dan anak ini.

Suatu hari ada banyak orang disana. Ayah dan anak ini tetap membungkukkan badan dan berdoa bagi semua orang. Salah seorang warga di sana berkata, “ Saya juga mendoakanmu semoga panjang umur dan penuh berkah.” Setelah berjalan pergi, orang itu berbalik  dan berkata, “Saya datang  untuk mencabut nyawa anak ini,” Orang ini adalah setan penyabut nyawa. Dia memegang prinsip untuk melakukan apa yang sudah dikatakannya.   Akan tetapi, dia sudah mendoakan anak tersebut agar panjang umur dan penuh berkah. “Bagaimana saya dapat mencabut nyawnya sekarang ? “ “ Sudahlah Lepaskan saja dia.”  Demikianlah anak itu tumbuh besar dengan selamat dan panjang umur. Tetua itu mengikuti ajaran Buddha untuk bersumbangsih dengan penuh sukacita dan membangkitkan rasa hormat kepada orang-orang. Selain menerima doa dari setan pencabut nyawa, tetua itu dan anaknya juga menjadi orang  yang sangat gemar bersumbangsih dan senantiasa mendoakan orang. Anaknya hidup panjang umur karena menerima doa dari banyak orang. Inilah jalinan jodoh. Selain menjalin hubungan yang baik dengan orang, kita juga harus bertindak sesuai prinsip kebenaran.

Sulit terlahir sebagai manusia dan sulit untuk mendengar ajaran Buddha. Apapun yang dilakukan, semuanya harus sesuai prinsip kebenaran. Setiap ucapan, pikiran dan perbuatan kita, semuanya bersentuhan dengan kondisi luar sehingga terciptalah karma baik atau buruk. Inilah Dharma. Di dunia ini, ada ajaran baik da nada ajaran tidak baik. Kita harus mendalami ajaran baik. Namun di dunia ini, ada banyak ajaran tidak baik yang mengganggu pikiran kita.  Ajaran tidak baik ini muncul karena perbuatan buruk manusia. Saat melihat sesuatu, ketamakan pun timbul di dalam hati kita. Akibat bangkitnya nafsu keinginan dan ketamakan, kita melakukan banyak hal yang mendatangkan kerusakan demi mendapatkan apa yang diinginkan. Apakah begini sudah cukup ? Tidak. Pikiran yang bergejolak mendorong kita melakukan tindakan jahat yang memicu datangnya bencana. Ini merupakan sebuah siklus. Karena itu, kita harus mengamati jalinan jodoh dan prinsip kebenaran yang tersirat di dalamnya.

Segala sesuatu di dunia mengandung prinsip kebenaran. Karena itu, kita harus bersungguh hati. Di dalam kehidupan sehari-hari, kita harus sungguh hati mendalami Dharma. Janganlah berpikir kita cukup melakukan kebaikan saja. Itu tidaklah cukup. Kita harus memahami ajaran Buddha. Setelah memahami ajaran Buddha, barulah kita dapat hidup bebas dari noda batin dan penuh sukacita. Kita hendaknya terjun ke masyarakat untuk bersumbangsih. Setelah bersumbangsih, kita akan memperoleh sukacita dan kerelaan untuk menjangkau semua orang dengan cinta kasih yang setara. Inilah prinsip kebenaran yang harus kita pahami di tengah umat manusia. Ini sangatlah penting.

Demikianlah dituliskan kisahnya dari video Master Cheng Yen Bercerita – Memohon Panjang Umur (077) https://youtu.be/r_kYJOhuMfw

 

Master Cheng Yen Bercerita : Disiarkan di Stasiun Televisi Cinta Kasih DAAITV INDONESIA :

Channel  Jakarta 59 UHF, Medan 49 UHF
Setiap Sabtu  18.30 WIB; Tayang ulang: Sabtu 22.00 WIB, Sabtu (Minggu berikutnya)  06.00 WIB

TV Online : https://www.mivo.com/#/live/daaitv

GATHA PELIMPAHAN JASA
Semoga mengikis habis Tiga Rintangan
Semoga memperoleh kebijaksanaan dan memahami kebenaran
Semoga seluruh rintangan lenyap adanya
Dari kehidupan ke kehidupan senantiasa berjalan di Jalan Bodhisattva

 

 

 

 

 

Sharing is caring!