Sanubari Teduh – Dekat dengan Tathagata, Jauh dari Kekeliruan (347)

Sanubari Teduh – Dekat dengan Tathagata, Jauh dari Kekeliruan (347)

Saudara se-Dharma sekalian, kita mempelajari ajaran Buddha, tentu tak lepas dari hukum sebab akibat. Jadi, mengenai hukum sebab akibat, dalam tindakan dan ucapan kita sehari-hari, terhadap orang dan masalah kita harus hati-hati. Segala yang kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari adalah hasil dari tindakan kita.  Saat merasa gembira dan senang,  kita harus bersyukur. Karena jalinan jodoh baik dimasa lalu, kini kita dapat merasakan kebahagiaan. Hukum sebab akibat tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari. Hukum sebab akibat bermula dari tubuh kita sendiri. Saya sering berkata bahwa setiap niat dan tindakan kita menciptakan perputaran roda sebab akibat. Kita juga harus lebih banyak mengamati tubuh kita sendiri. Ketahuilah bahwa tubuh ini tidak bersih, perasaan membawa derita, pikiran tidak kekal, dan  segala fenomena adalah tanpa inti. Kita harus senantiasa merenungkan hali ini.

 

Benih apa yang kita tanam di masa lalu, itulah buah yang akan kita tuai di kehidupan ini. Adakah tubuh kita sekarang ini menanam benih yang akan di bawa ke kehidupan mendatang ? benih-benih itu akan kita bawa ke kehidupan mendatang. Karena itu, kita harus mengamati tubuh ini. Apa yang kita kejar dalam kehidupan ini ? Tubuh Tathagata.

 

Tujuan kita mendalami ajaran Buddha adalah demi mencapai kebuddhaan. Setelah memutuskan untuk mendalami ajaran Buddha, kita harus berlatih sesuai sila dan ajaran-Nya. Dharma bagaikan air. Setiap hari, kita harus membersihkan kekotoran batin.  Jika dahulu kita memiliki tabiat yang tidak baik, maka kita harus segera mengikisnya. Segala yang kita rasakan sekarang merupakan akibat kekeliruan di masa lalu. Bukankah ini juga yang kita lakukan di masa sekarang ? Sebelum mencapai kebuddhaan, manusia diliputi kekeliruan sehingga tidak dapat melihat kebenaran dengan jelas. Karena itu, kita terus bersikap penuh perhitungan. Inilah tabiat yang diliputi kekeliruan. Berhubung telah mempelajari ajaran Buddha, kita harus menjaga diri dengan baik. Janganlah membiarkan kekeliruan membuat kita terperangkap di enam alam kehidupan. Enam alam adalah enam jalur kelahiran.  Kelahiran di enam alam membuat kita terus menderita.

 

Enam Alam :

1.   Alam Dewa

2.   Alam Manusia

3.   Alam Asura

4.   Alam Neraka

5.   Alam Setan Kelaparan

6.   Alam Binatang

 

Enam alam ini adalah enam jalur kelahiran yang dialami semua makhluk sesuai karmanya. Semua praktisi Buddhis tahu bahwa kita terlahir  ke enam alam tanpa bisa memilih. Sebgaia praktisi Buddhis, kita harus dapat melampaui enam alam kehidupan. Bahkan alam dewa sekalipun tidak bersifat abadi. Jadi, untuk melampaui enam alam kehidupan, satu-satunya cara adalah kita harus menyadari kesalahan dan senantiasa berintrospeksi. Apakah kita senantiasa berinstropeksi ? Apa yang harus kita lakukan  jika melakukan kekeliruan ? kita harus segera memperbaiki diri. Jika tidak memiliki hati yang bertobat, maka kita tidak akan tahu untuk memperbaiki diri. Dharma bagaikan air. Artinya, kita harus bertobat. Kita harus senantiasa mempraktikkan Dharma dalam kehidupan sehari-hari untuk mengingatkan diri dan mengintrospeksi diri. Dalam menghadapi orang ataupun menangani masalah, apakah kita ada kesalahan ? Jika ada, maka kita harus menyadari kesalahan dan segera bertobat. Dengan Begitu, baru kita dapat terbebas dari penderitaan dan memperoleh kebahagiaan.

 

Selama Noda batin timbul, maka baik tampak maupun tidak, ia tetap akan merugikan diri sendiri. Dengan sungguh-sungguh memahami hukum sebab akibat barulah kita dapat melenyapkan noda batin. Jadi, kita semua harus bersungguh hati

 

Demikianlah diintisarikan dari Sanubari Teduh – Dekat dengan Tathagata, Jauh dari Kekeliruan (347) https://youtu.be/eIq3WnBypFU

 

 

Sanubari Teduh : Disiarkan di Stasiun Televisi Cinta Kasih DAAITV INDONESIA :
Setiap Minggu 05.30 WIB ; Tayang ulang: Sabtu 05.30 WIB

Channel  Jakarta 59 UHF, Medan 49 UHF
TV Online : https://www.mivo.com/#/live/daaitv

 

 

GATHA PELIMPAHAN JASA
Semoga mengikis habis Tiga Rintangan
Semoga memperoleh kebijaksanaan dan memahami kebenaran
Semoga seluruh rintangan lenyap adanya
Dari kehidupan ke kehidupan senantiasa berjalan di Jalan Bodhisattva