Sanubari Teduh – Empat Jenis Pengamatan – Bagian 11 (345)

Sanubari Teduh – Empat Jenis Pengamatan – Bagian 11 (345)

Pintu Dharma tanpa batas seluruhnya terpapar di hadapan; memperoleh kebijaksanaan agung dan memahami segala kebenaran.

Sepenuhnya memahami kebenaran di balik sifat dan wujud, ada tiada, panjang pendek, terlihat dengan sangat jelas.

(Sutra Makna Tanpa Batas)

Saudara se-Dharma sekalian. Apakah setiap hari kita sudah mendengar prinsip kebenaran dengan jelas ? setiap hari saya berbagi dengan kalian, tetapi apakah kalian sudah menyerapnya ke dalam hati ? setiap hai kita melafalkan kalimat, “Pintu Dharma yang tak terhingga terpapar di hadapan,” Apakah pintu Dharma itu sungguh terpampang dihadapan kita ? Bukankah segala sesuatu  yang terjadi di hadapan kita  baik yang bersuara maupun tidak bersuara, baik yang berwujud maupun tidak berwujud, semuanya mengandung Dharma ? Hanya saja, entah kita memahaminya atau tidak. Jika dapat memahaminya, maka kita akan  memperoleh kebijaksanaan agung dan memahami semua kebenaran. Kita harus senantiasa bersungguh hati.

Dengan memperoleh kebijaksanaan agung dan memahami semua kebenaran, secara alami kita dapat sepenuhnya memahami kebenaran di balik sifat dan wujud. Ada-tiada, panjang-pendek, akan terlihat dengan sangat jelas. Memahami berarti dapat melihat dengan jelas. Kita hendaknya memahami bahwa waktu terus berlalu dan bumi terus berputar.  Semua perubahan kondisi mengandung Dharma. Perubahan kondisi yang sangat halus ini meliputi perubahan dari langit yang gelap menjadi terang. Apakah kita bisa menyebut langit yang gelap menjadi terang atau terang sebagai gelap ?  Sesungguhnya, terang dan gelap hanyalah sebuah nama. Saat langit gelap, kondisi di sekitar kita menjadi gelap. Bagaimana cara kita mengungkapkan kegelapan itu ? Di dalam dialek Taiwan di sebut “am-an”. Sebutannya berbeda dalam bahasa Jepang dan bahasa Inggris. Ini hanyalah sebuah sebutan. Apakah sungguh ada wujudnya ? “Am-an”berarti gelap. Gelap berarti “Am-an”. Bagaimana cara kita menjelaskannya pada orang lain ? Kita harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang sifat alam semesta ini.

Yang keempat adalah mengamati bahwa tubuh Tathagata tak terkondisi, hening dan cemerlang, terlepas dari empat ungkapan dan segala kenegatifan, sempurna dalam berbagai kebajikan, jernih dan abadi.

Hakikat kebuddhaan bersifat abadi. Semua orang memiliki hakikat kebuddhaan. Setiap orang telah berulang kali mengalami kelahiran kembali. Apakah pada kehidupan sebelumnya kita kehilangan hakikat kebuddhaan ? Tidak. Sejak masa tanpa awal,  hakikat kebuddhaan itu sudah ada. Apakah kita kehilangan hakikat kebuddhaan pada kehidupan ini ? Tidak. Tetap ada. Akan tetapi, di kehidupan ini ada orang yang dipenuhi kegelapan batin dan hidup tersesat, apakah hakikat kebuddhaannya hilang? Tidak. Ia masih ada.  Kita harus percaya bahwa  hakikat kebuddhaan kita bersifat abadi. Hakikat Tathagata adalah hakikat kebuddhaan. Tubuh Tathagata sangat terlepas dari kondisi, hening dan cemerlang. Apa yang di sebut terlepas dari kondisi ? Ia berarti alami.  Alami berari tidak di buat-buat. Contohnya saat pagi hari, kita ingin langit berubah gelap. Sebelum tiba waktunya, kita tidak dapat mengubah langit menjadi gelap. Di musim semi, langit cepat terang. Di musim dingin, saat saya masuk ruangan seusai memberikan ceramah, langit masih belum terang. Jadi, hukum alam ini berjalan mengikuti perputaran bumi dan matahari. Empat musim terbagi dengan jelas. Belahan bumi yang menghadapi matahari akan terasa terang.  Dan di belahan bumi lain akan terasa gelap. Jadi hukum alam adalah yang tidak di buat-buat. Bukan berarti kita meminta langit menjadi gelap, lantas ia menjadi gelap. Bukan berarti kita meminta langit menjadi terang, lantas ia pun menjadi terang. Ini bukan hal yang dapat dikendalikan manusia. Ini merupakan sebuah hukum alam. Dengan kata lain,  hakekat kebuddhaan ada di dalam sifat hakiki setiap orang. Karena itu, kita harus mengamati tubuh Tathagata di dalam diri. Sesungguhnya kita juga memilikinya. Kita memiliki sifat hakiki yang hening dan cemerlang. Kondisi batin yang hening dan cemerlang adalah sifat hakiki kita. Hanya saja, kecemerlangan ini sudah tertutupi oleh kegelapan batin. Sama seperti bagian bumi  yang membelakangi matahari akan menjadi gelap, sebagai makhluk awam, hakikat sejati kita yang cemerlang menjauh dari “yang tak berkondisi” sehingga tak dapat memancar. Demikianlah kita makhluk awam.

Hakekat kebuddhaan yang abadi, tak terkondisi, hening dan cemerlang pada dasarnya dimiliki oleh semua orang. Ciri Tathagata adalah hening, cemerlang dan tak terkondisi. Ia terlepas dari empat ungkapan. Apakah empat ungkapan itu ?

Empat Ungkapan :

1.   Bukan ada

2.   Bukan tidak ada

3.   Buakan ada dan tidak ada

4.   Bukan bukan ada dan bukan tidak ada

Jika tak bersungguh hati, kita tak dapat memahaminya. Asalkan kita bersungguh hati, sesungguhnya kebenaran yang diajarkan Buddha  sangatlah sederhana. Tubuh Tathagata adalah tubuh Darma. Dimanakah sumber Dharma berada ? Dalam sifat hakiki Tathagata. Sesungguhnyha kebijaksanaan dan hakikat kebuddhaan adalah satu. Dengan memiliki kebijaksanaan, maka kita dapat memahami segala kebenaran. Jadi kita hendaknya memahami bahwa semua orang memiliki tubuh Dharma. Tubuh Dharma ini tidak terkondisi dan selalu abadi. Sejak dahulu, ia sudah ada, hening dan cemerlang.

Jika dapat bebas dari empat ungkapan dan tidak melekat pada ciri dan wujud, tidak terpaku pada konsep ada atau tidak ada, kita akan dapat melenyapkan kegelapan batin.

Setelah kegelapan batin dilenyapkan,  hakikat sejati kita akan tampak. Apakah hakikat sejati itu ?  Empat Pikiran tanpa batas, Enam Paramita.

Empat pikiran tanpa batas:

Cinta kasih tanpa batas,

Welas asih tanpa batas,

Sukacita tanpa batas,

Keseimbangan batin tanpa batas.

Enam Paramita:

Dana

Sila

Kesabaran

Semangat

Konsentrasi

Kebijaksanaan

Empat Jenis Pengamatan :

1.   Mengamati sebab dan kondisi

2.   Mengamati buah dan akibat

3.   Mengamati tubuh diri sendiri

4.   Mengamati tubuh Tathagata

Empat Pikiran tanpa batas, Enam Paramita memancarkan hakikat sejati kita. Setiap orang memiliki hakikat sejati ini. Bagaimana kita dapat kembali pada hakikat yang murni dan cemerlang ini ? Kita harus menggunakan Empat Pikiran tanpa batas dan Enam Paramita untuk membina dan mengasah hakikat kita. Hakikat sejati kita ditutupi oleh selapis demi selapis kegelapan batin. Jadi saudara sekalian, kita harus selalu berusaha memahami dengan jelas sifat dan ciri Dharma karena semua ini ada dalam keseharian. Untuk itu, harap semua selalu bersungguh hati.

Demikianlah diintisarikan dari Sanubari Teduh – Empat Jenis Pengamatan – Bagian 11 (345) https://youtu.be/ZeBH2ePv9TE

Sanubari Teduh : Disiarkan di Stasiun Televisi Cinta Kasih DAAITV INDONESIA :
Setiap Minggu 05.30 WIB ; Tayang ulang: Sabtu 05.30 WIB

Channel  Jakarta 59 UHF, Medan 49 UHF
TV Online : https://www.mivo.com/#/live/daaitv

GATHA PELIMPAHAN JASA
Semoga mengikis habis Tiga Rintangan
Semoga memperoleh kebijaksanaan dan memahami kebenaran
Semoga seluruh rintangan lenyap adanya
Dari kehidupan ke kehidupan senantiasa berjalan di Jalan Bodhisattva