Sanubari Teduh – Empat Jenis Pengamatan – Bagian 5 (339)

 

Sanubari Teduh – Empat Jenis Pengamatan – Bagian 5  (339)

 

 

Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari kita selalu membahas tentang menjaga pikiran. Pikiran yang baik harus dipertahankan. Janganlah meremehkan kebajikan kecil, lalu tidak melakukannya. Jangan pula melakukan kejahatan meskipun kecil.  Jadi, pikiran baik harus di barengi ucapan dan tindakan baik. Inilah perbuatan dari tubuh, ucapan dan pikiran. Jika kita dapat selalu menjaga pikiran baik, maka kebajikan kecilpun akan kita usahakan. Dengan begitu kejahatan kecil juga akan kita cegah sebisa mungkin. Dengan begitu kita tak akan tercemar oleh kegelapan batin.

 

 

Sebelumnya kita membahas sebab dan kondisi. Kita harus memandang penting hukum sebab dan akibat.

Pertama adalah mengamati sebab dan kondisi. Mengetahui bahwa kesalahan bermula dari pikiran yang tidak jernih, penuh kegelapan batin, serta tak memiliki kekuatan pengamatan yang benar; tak menyadari kesalahan dan menjauhi teman bajik serta para Buddha dan Bodhisattva; mengikuti jalan Mara dan menapaki jalan sesat serta berbahaya.

 

Lihatlah, jika kita menyimpang sedikit saja atau membangkitkan sebersit pikiran keliru, maka kita mungkin akan mengikuti guru sesat dan berada di jalan berbahaya. Di dalam teks disebutkan tiga perumpamaan.

“Bagai  ikan mengigit mata kail, tidak mengetahui bahayanya; bagai ulat membuat kepompong, membelenggu diri sendiri; bagai serangga yang mendekati api, akan membakar diri sendiri; demikianlah tak dapat membebaskan diri akibat sebab dan kondisi ini “

 

Demikian pula, saat bertemu kondisi luar, kita tak dapat membuka hati dan merasa risau. Inilah sumber penderitaan dalam hidup kita. Kita tak bisa membebaskan diri dari itu. Kita menjadi risau karenanya.  Ini bagaikan serangga yang menerjang api. Mungkin ketamakan bangkit atau kita terbuai kondisi luar sehingga tidak dapat mengontrol diri. Akibatnya, dia sendiri akan “terbakar”.  Inilah keadaan semua makhluk. Tanpa adanya kondisi luar yang menjadi sebab yang membuat kita,  bagaimana mungkin kita tak dapat mengendalikan diri ? Jadi, mengapa kita terjebak oleh kondisi di luar sehingga tak bisa mengendalikan diri ? Apa sebabnya. Saya terus mengatakan bahwa kita harus memandang penting hukum sebab dan akibat.

 

 

Tanpa adanya sebab, tak akan terwujud kondisi. Tanpa adanya kondisi, tak akan ada buah. Saat segala sesuatunya tidak berpadu, pasti tidak akan terwujud apapun.   Apa yang di sebut adu mulut ? Adu mulut pasti melibatkan dua orang. Jika hanya satu orang disebut memaki. Misalnya ada orang memaki kita. Jika kita tidak membalas, maka tidak akan terjadi adu mulut. Jika hati kita dapat terbuka dan dapat bersikap penuh pengertian serta tetap bersyukur, maka yang memaki hanya satu pihak. Saat pihak lain salah paham terhadap kita, jika bisa memberi penjelasan dan meluruskan. Dengan begitu rasa dendam tak akan terjalin. Jadi selain ada sebab, pasti ada berbagai kondisi pendukung. Mengapa orang itu bisa memaki kita ? Pasti ada sebabnya. Pasti ada alasan lainnya. Barangkali orang lain mengatakan sesuatu   dan dia menerimanya begitu saja. Jika tidak ada faktor luar seperti itu, maka mungkin tindakan kita membuatnya salah paham. Jadi, sebab harus di barengi kondisi pendukung, baru mendatangkan buah dan akibat.  Jadi, diperlukan sebab dan kondisi. Segala hal terwujud akibat adanya  perpaduan sebab dan kondisi.

 

Segala hal yang terjadi pasti memiliki sebab. Tanpa sebab, tak akan muncul kondisi; tak akan muncul akibat. Jika dapat bersikap penuh pengertian dan penuh rasa syukur, kita akan dapat mengurai permusuhan dan tak akan menjalin rasa dendam.

 

Alam sudah mulai memberi peringatan. Masa kini adalah era kerusakan. Hukum Sebab akibat terus berjalan. Segala bencana berawal dari ulah manusia. Manusia hendaknya dapat berintropeksi. Setiap hari kita harus menjaga pikiran dengan baik. Jangan meremehkan niat baik yang kecil dan tidak mempertahankannya sehingga kita mengabaikan dan tidak melakukan kebajikan kecil. Jangan pula meremehkan niat buruk yang kecil dan menyimpannya di dalam hati. Jangan mengira bahwa itu hanya kesalahan kecil. Kesalahan itu juga bisa terpupuk menjadi besar. Saudara sekalian kita harus memiliki pandangan tentang hukum sebab dan akibat. Kita harus melihat lebih luas dan sungguh-sungguh mengamati pikiran kita. Kita harus senantiasa merenung dan menjaga pikiran yang baik dan jernih. Kita harus memiliki pengamatan yang bijaksana. Semua hendaknya selalu bersungguh hati.

 

 

Demikianlah diintisarikan dari Sanubari Teduh – Empat Jenis Pengamatan – Bagian 5 (339)  https://youtu.be/E0iWd9_NUa4

 

 

Sanubari Teduh : Disiarkan di Stasiun Televisi Cinta Kasih DAAITV INDONESIA :
Setiap Minggu 05.30 WIB ; Tayang ulang: Sabtu 05.30 WIB

Channel  Jakarta 59 UHF, Medan 49 UHF
TV Online : https://www.mivo.com/#/live/daaitv

 

 

GATHA PELIMPAHAN JASA
Semoga mengikis habis Tiga Rintangan
Semoga memperoleh kebijaksanaan dan memahami kebenaran
Semoga seluruh rintangan lenyap adanya
Dari kehidupan ke kehidupan senantiasa berjalan di Jalan Bodhisattva