Sanubari Teduh – Menjaga Sila dan Mendisplinkan Diri Sendiri (462)

Video Youtube : https://youtu.be/ipYdKbgX4Fg

Saudara se-Dharma sekalian, Syair Pertobatan Air Samadhi terdiri atas tiga jilid. Kita telas habis membahas jilid kedua. Kita kembali mengulangnya sekali. Saat sebab
dan kondisi terpenuhi buah dan akibat akan muncul. Jika sebab dan kondisi tidak terpenuhi, buah
atau akibat tidak akan terwujud. Air Dharma dapat membersihkan noda batin.

Mahabhiksu Wu Da mengidap luka wajah manusia. Berkat air samadhi Yang Arya Kanaka, dendamnya di murnikan dan lukanya sembuh. Pahalanya bagai gunung, budinya bagai lautan. Dari sini beliau membabarkan bahwa Dharma bagaikan air. Beliau menulis Syair Pertobatan Air Samadhi. Semua ini ada jalinan jodohnya. Kita semua tahu, tanpa adanya sebab. Kondisi tak akan terwujud. Jika sebab dan kondisi tidak bertemu, buah tidak akan muncul.

Pada 10 kehidupan sebelumnya, bhiksu Wu Da adalah Yuang Ang. Yuang Ang memiliki kekuasaan yang besar. Kekuasaannya hanya satu tingkat di bawah Kaisar. Dia mendengar Chao Cuo ingin berkianat. Demi menjaga keamanan negara, Yuang Ang mengelabui Chao Cuo dan membunuhnya. Setelah itu, dia menyadari hukum sebab akibat. Meski itu dilakukan demi menjaga keamanan, tetapi membunuh tetaplah membunuh. Dia merasa kehidupan tidak kekal; kekayaan dan kemuliaan bagaikan awan. Dia lalu mulai melatih diri. Dia memegang sila dengan ketat. Dia terus melatih diri dalam 10 kehidupan.

Dalam sepuluh kehidupan ini pintu karmanya seakan tertutup berkat keteguhan silanya. Kekeruhan di luar tidak dapat merasuki batinnya. Oleh karena itu, batinnya bebas dari cemar dan noda. Kekuatan karma juga tak dapat memengaruhi. Pintu karmanya tidak dapat terbuka. Chao Cao tidak dapat membalas dendam. Apakah jalinan karma ini hilang ? Tidak hilang. Kebencian orang yang dibunuh sangatlah dalam. Jadi, Chao Cao mengikuti selama sepuluh kehidupan dan harus menunggu hingga pintu karma terbuka. Sepuluh kehidupan sangatlah lama.

Chao Cao tidak dapat membalas dendam selama sepuluh kehidupan, hingga pada masa kehidupan Zhi Xuan. Zhi Xuan adaklah nama Bhiksu Wu Da sebelum menjadi guru kerajaan. Nama Dharma dia adalah Zhi Xuan. Beliau sempat bertemu Yang Arya Kanaka saat menjelma sebagai Bhiksu muda yang sakit. Mereka tinggal di biara yang sama. Bhiksu ini menderita penyakit dan tiada ada yang mau membersihkan tubuhnya. Tubuhnya sakit dan kotor. Zhi Xuan merasa tidak tega. Dia tinggal dan merawat Bhiksu itu hingga sehat. Saat hendak berpisah bhiksu yang sakit itu berkata kepada Zhi Xuan. “Terima kasih, engkau telah sepenuh hati merawatku” “Kelak jika engkau bertemu kesulitan, saya juga bisa membalas kebaikan mu. “ Jika engkau bertemu kesulitan, datanglah ke gunung Jiulong di negri Shu “ “ Disana ada buah batang pohon pinus” “Ditengahnya ada sebuah Vihara.” Datanglah ke sana untuk mencariku” mereka akhirnya berpisah.

Selama beberapa puluh tahun, dengan cinta kasihnya, Zhi Xuan melatih diri dan menjaga sila serta membabarkan Dharma dimana-mana. Perlahan-lahan dia semakin berumur. Pelatihan dirinya juga bertambah maju. Jadi, keluhuran dan moralitasnya sudah terkenal di kalangan rakyat. Di zaman itu, Kaisar Yi Zong adalah seorang umat Buddha yang taat. Beliau terus mencari orang yang dapat membabarkan Dharma bagi beliau tentang cara memerintah yang baik.

Sejak saat itu kaisar Yi Zong menobatkan Bhiksu Wu Da sebagai guru kerajaan. Singkat cerita Bhiksu Wu Da menerima jabatan guru kerajaan. Kaisar Yi Zong sering berdiskusi Dharma dengannya. Setelah menerima Dharma kaisar Yi Zong timbul rasa hormat yang mendalam. Beliau menghormati gurunya. Suatu ketika beliau memberikan singgasana kayu cendana yang sangat mahal. Meski selama 10 kehidupan terakhir mahabiksu Wu Da terus menjaga sila sehingga menutup pintu karma, tetapi beliau masih memiliki sedikit noda batin. Kegelapan batin membangkitkan Tiga Aspek Halus. Sedikit kesombongan dan kegelapan batin yang bangkit membuat Bhiksu Wu Da berpikir, “ Hari ini saya menjadi guru Kaisar”. “Saya dihormati penguasa negri” Jadi di dalam hatinya timbul sedikit kesombongan. Karena Terlalu gembira, kaki beliau membentur kursi tersebut. Kakinya pun terluka dan mulai memborok. Rasa sakitnya sungguh tak terkira. Bhiksu Wu Da sangat menderita, lukanya menyerupai wajah manusia.

Beliau berangsur-angsur teringat pesan bhiksu yang sakit saat beliau muda, beliau ingat pesan bila suatu saat Bhiksu Wu Da bertemu kesulitan, datanglah mencarinya di gunung Jiu Long di negri Shu. Bhiksu Wu Da tiba-tiba mengingat hal ini. Jadi beliau merasa bahwa mungkin inilah satu-satunya harapan untuk menyembuhkan luka wajah manusia. Dengan seijin dan bantuan Kaisar akirnya Bhiksu Wu Da bertemu Yang Arya Kanaka dan kesokan harinya Bhiksu Wu Da di bawah ke sebuah mata air di lereng gunung. Bhiksu Wu Da sangat senang. Beliau segera mengambil air untuk mencuci kakinya. Saat baru membungkuk beliau seakan mendengar suara yang memintanya berhenti sejenak. “ Biar saya berbicara sampai selesai, baru kau boleh mencucinya. “ Bhiksu Wu Da lalu berhenti, suara itu kembali berkata “ Engkau sebagai guru kerajaan, pasti tahu di dalam sejarah ada kisah Yuan Ang yang mengelabui Chao Cuo” Bhiksu Wu Da mengerti dalam kitab sejarah ada tercatat tentang kisah ini. Suara itu kembali berkata saat itu kau adalah Yuan Ang dan aku adalah Chao Cuo” Apakah kau ingat? “Meski niatku saat itu tidak lurus, tetapi engkau lebih kejam, engkau mengelabui dan membunuhku, “Saat itu dendamku begitu besar” Saat dipenggal kepalaku mengelinding” Aku sangat ingin berteriak dan membalas dendam” saat mulutku terbuka, batu masuk ke mulutku dan hancur berkeping-keping, “Apakah kamu ingat” Sejak saat itu engkau pergi melatih diri dan memegang sila yang sangat ketat. Pintu Karmamu tertutup sehingga aku harus terbelenggu dalam 10 kehidupan. Aku juga sangat menderita dan tidak bisa lahir kembali” Hari ini berkat Yang Arya Kanaka, aku telah menemukan jalan “Aku tahu rasa dendam itu harus dilepaskan” “Hari ini aku akan meninggalkanmu” “Biarlah dendam ini berakhir di sini” “Engkau harus menjaga diri” Suara itu pun menghilang. Bhiksu Wu Da tiba-tiba bagaikan tersadar dari mimpi. Tiba-tiba ia merasakan sakit yang tak terkira, hingga beliau pingsan. Saat siuman luka wajah itu sudah lenyap. Dalam kondisi tersebut, beliau perlahan-lahan merenung “Sungguh menakutkan “ Hukum karma sungguh menakutkan”, Pelatihan selama sepuluh kehidupan tidak mampu melawan belenggu karma. Buah karma harus tetap diterima.

Inilah asal mula Syair pertobatan Air Samadhi. Kita sudah membahas jilid kedua. Jadi selanjutnya, kita akan membahas jilid ketiga. Harap semua orang menganggap jilid pertama, kedua dan ketiga dari syair pertobatan yang telah kita bahas ini bagaikan air yang jernih. Jika kita memiliki kesalahan, kita bagai menderita luka wajah manusia. Dibutuhkan air untuk mencucinya, Meski luka itu sakit saat di cuci, tetapi jika kita tidak memiliki kesabaran dalam berlatih, kita tak akan mendekat pada tataran kebuddhaan. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati.

Demikianlah dikutip dari video Sanubari Teduh – Menjaga Sila dan Mendisplinkan Diri Sendiri (462) https://youtu.be/ipYdKbgX4Fg
Sanubari Teduh : Disiarkan di Stasiun Televisi Cinta Kasih DAAITV INDONESIA : Setiap Minggu 05.30 WIB ; Tayang ulang: Sabtu 05.30 WIB
Channel Jakarta 59 UHF, Medan 49 UHF
TV Online : https://www.mivo.com/live/daaitv

GATHA PELIMPAHAN JASA
Semoga mengikis habis Tiga Rintangan
Semoga memperoleh kebijaksanaan dan memahami kebenaran
Semoga seluruh rintangan lenyap adanya
Dari kehidupan ke kehidupan senantiasa berjalan di Jalan Bodhisattva