Sanubari Teduh – Sikap Malas Menyia-nyiakan Waktu (487)

Video Youtube : https://youtu.be/x6N1OExkKxg

Saudara se-Dharma sekalian, waktu berlalu dengan sangat cepat. Dalam kehidupan kita telah memanfaatkan waktu ataukah membiarkan waktu berlalu sia-sia ?

Seberapa banyak waktu yang disia-siakan, sebanyak itulah kehidupan kita terkikis. Hidup di dalam kemalasan sama dengan menyia-nyiakan sumberdaya. Mendapat kelahiran berharga sebagai manusia, bagaimana bisa kita tidak menghargainya untuk menumbuhkan jiwa kebijakasanaan ?

Ini ingin mengatakan kepada kita bahwa kehidupan sebagai manusia sungguh sulit didapat. Kini kita telah terlahir sebagai manusia. Bolehkah kita menyia-nyiakan waktu dan melewati hari-hari tanpa pencapaian membiarkan hari-hari berlalu begitu saja? Ini berarti mengikis kehidupan kita. Kini kita memiliki kehidupan. Janganlah kita menganggapnya sebagai barang yang tak berguna. Kita harus sungguh-sungguh memanfaatkan kehidupan kita.

Jadi, memang sulit terlahir sebagai manusia, tetapi kita sudah terlahir. Kita memiliki tubuh dan batin yang sehat. Bagaimana boleh kita tidak memanfaatkannya ? Jadi, kita harus sungguh-sungguh memanfaatkannya. Dengan begitu setiap waktu, dan setiap hari bisa kita gunakan untuk menjalin jodoh baik dan berbuat baik. Menjalin jodoh dan berbuat baik dapat menumbuhkan jiwa kebijaksanaan karena kita saling memahami satu sama lain dan saling berlatih antar sesama.

Semua orang dapat menjadi pendukung atau penghalang yang memicu untuk maju. Saat jalinan jodoh buruk datang, itu adalah penghalang. Namun, penghalang adalah pemicu untuk maju. Ini membuat tekad kita semakin teguh. Kalian tentu sering mendengar sebuah kalimat kata Renungan Jingsi “ Saat kaki depan melangkah, kaki belakang harus mengikuti ” saat orang lain menarik kaki ke belakang kita, kita menganggapnya sebagai ajang latihan kekuatan kaki. Benar. Ini adalah sebuah terapi. Tanpa terapi, tubuh dan batin kita mungkin akan kehabisan energi saat menghadapi berbagai kondisi. Kadang, kita juga harus sungguh-sungguh bersyukur atas adanya penghalang ini. Jadi kita harus memanfaatkan setiap waktu yang ada. Jangan biarkan semua itu berlalu sia-sia. Berapa banyak waktu yang kita sia-siakan, sebanyak itulah kehidupan kita berkurang. Kehidupan kita akan terkikis jika kita hidup di dalam hari-hari yang penuh kemalasan. Kita mungkin pernah mendengar ungkapan “ Orang mati yang hidup ” atau “ orang hidup yang mati ” ini seperti mayat hidup. Orang ini masih hidup, tetapi ada atau tidak ada dirinya sama saja.

Ada orang yang sangat bersungguh – sungguh untuk bersumbangsih di masyarakat. Meski dirinya sudah tiada, tetapi dia bagikan masih ada, karena karyanya masih ada. Jadi, kita harus menjadi orang yang berharga. Jangan menyia-nyiakan waktu dan kehidupan kita. Jadi, kita harus selau bersungguh hati.

Jadi, kita harus tekun dan bersemangat untuk melatih tubuh dan batin kita dengan memanfaatkan waktu yang ada agar kita lebih memahami kebenaran. Kelak kita dapat membimbing orang lain dengan keteladanan nyata. Kita harus memiliki kualitas luhur. Jangan terus bersikap perhitungan dengan orang lain. Jangan. Jangan perhitungan dalam hal waktu. Jika ingin perhitungan, hitunglah nilai kehidupan kita siring waktu berlalu. Apakah pencapaian kita dalam kehidupan ? Apa yang telah kita lakukan ? Jadi, harap semua kita ingat, jangan sampai kita menyia-nyiakan waktu sepanjang tahun. Kita harus sungguh-sungguh mengingatkan diri sendiri. Hati kita harus selalu ada dalam enam perenungan. Pikiran tidak boleh lepas dari kebenaran. Melihat orang lain berbuat baik. Kita harus turut bersuka cita dan memuji. Ini juga termasuk pahala. Patutkah kita merasa iri ? jangan sampai. Jadi kita harus bersungguh- sungguh menjaga pikiran sendiri. Jangan sampai kita tak peduli pada orang lain, juga tidak peduli pada diri sendiri. Jadi, kita harus peduli. Kita adalah pembina diri. jika pikiran tidak di jaga dengan baik, kita sungguh telah menyia-nyiakan waktu dalam kehidupan yang berharga.

Saudara sekalian, dalam mempelajari agama Buddha, kita harus memanfaatkan waktu yang ada. Waktu adalah milik kita. Waktu dapat memupuk segala pencapaian. Waktu bukanlah di tujukan untuk kita sia-siakan dan kita manfaatkan. Seberapa banyak Waktu yang terbuang, sebanyak itulah waktu kita yang terkikis. Jika kehidupan terkikis, kelahiran kita sebagai manusia sudah sia-sia. Sulit terlahir sebagai manusia dan bertemu ajaran Buddha. Bukan hanya telah terlahir sebagai manusia dan bertemu ajaran Buddha, kita bahkan telah masuk ke ladang pelatihan. Di ladang pelatihan ini, jika kita tidak sungguh-sungguh berlatih, jiwa kebijaksanaan kita tak akan tumbuh sedikitpun. Jiwa kebijaksanaan tak tumbuh di ladang pelatihan, berarti kehidupan kita telah sia-sia. Kita malah memupuk noda batin dan karma buruk, bukankah ini sangat di sayangkan. Saudara sekalian, praktisi Buddhis harus memiliki sikap layaknya praktisi Buddhis. Di dalam ladang pelatihan ini, kita punya kesempatan untuk memanfaatkan kehidupan kita. Jadi, kita semua harus selalu lebih bersungguh hati.

Demikianlah dikutip dari video Sanubari Teduh – Sikap Malas Menyia-nyiakan Waktu (487) https://youtu.be/x6N1OExkKxg

Sanubari Teduh : Disiarkan di Stasiun Televisi Cinta Kasih DAAITV INDONESIA : Setiap Minggu 05.30 WIB ; Tayang ulang: Sabtu 05.30 WIB
Channel Jakarta 59 UHF, Medan 49 UHF
TV Online : https://www.mivo.com/live/daaitv

GATHA PELIMPAHAN JASA
Semoga mengikis habis Tiga Rintangan
Semoga memperoleh kebijaksanaan dan memahami kebenaran
Semoga seluruh rintangan lenyap adanya
Dari kehidupan ke kehidupan senantiasa berjalan di Jalan Bodhisattva